Singgah Sejenak di Kampung Wisata Alam Malon

Rabu, Juli 10, 2019



Belum banyak yang tahu kalau di Gunung Pati, Kabupaten Semarang, terdapat sebuah perkampungan batik. Kampung Wisata Alam Malon namanya. Tapi di sini, kamu nggak hanya bisa menemukan batik!

Wedang Malon, minuman khas Kampung Malon menyambut kedatangan kami siang itu. Wedang ini terbuat dari rempah seperti jahe,kapulogo, jeruk purut, kayu manis, gula jawa, pandan, irisan daging kelapa muda dsb. Wedang Malon juga bisa dinikmati dengan menambahkan susu sapi segar. Rasanya? Seperti STMJ.


Tidak hanya aroma, rasa rempahnya cukup kuat. Untuk sekedar menghangatkan dan menyegarkan badan, cocok lah ya!

Setelah menghabiskan dua gelas wedang Malon dan beberapa potong ketela rebus, saya dan teman-teman penggiat wisata diajak berkeliling kampung oleh Pokdarwis Kampung Malon. Tampak beberapa rumah warga Kampung Malon membuka workshop pembuatan batik sebagai atraksi wisata.


Tidak hanya batik cap, kamu bisa membawa pulang batik tulis. Motifnya bervariasi, namun lebih mengangkat motif Semarangan dan Gunung Pati seperti motif durian dan jambu kristal. Ada pula motif klasik seperti ragam flora dan fauna.



Batik di Kampung Malon dibuat dengan bahan pewarna alami yang berasal dari limbah mangrove, tingi, jelawe, indigofera, secang, tegeran, dan kulit jambal. Mayoritas tumbuhan ini dibudidayakan pada lahan milik warga.


Produk batik warna alami ini kemudian dijadikan sebagai media dalam mengkampanyekan pelestarian lingkungan dengan memanfaatkan alam dan penggunaan bahan non-kimia. Selain itu, penggunaan bahan pewarna alami ini juga mengurangi limbah dan pencemaran lingkungan dari hasil limbah kimia.


Belum selesai berkeliling kampung, kami disuguhi sate krembi. Yang satu ini juga khas dari Kampung Malon. Terdapat ketan rebus yang dikepal, irisan tempe, dan daging ayam dalam setiap tusuknya. Aromanya khas seperti jajanan 'penthol' di Madiun sana. Makin nikmat ketika disiram dengan bumbu kacang seperti sate ayam pada umumnya.


Baru makan beberapa tusuk sate, makan siang yang sebenarnya muncul. Kalau kata teman saya, "belum bisa disebut sudah makan, kalau belum makan nasi". Lalu, menu makan siang yang njawani ini mengisi perut yang sudah keroncongan. Nasi urap, sate krembi, ditambah ikan asin dan perkedel kentang - nikmat!


Nah, udah kenyang kan? Saatnya jalan-jalan ke kebun warna untuk melihat tanaman Indigofera, dan beberapa tanaman lain. Pak Gareng yang menjadi guide kami siang itu memberikan penjelasan cukup panjang mengenai proses pengolahan tanaman Indigofera ini hingga bisa digunakan sebagai bahan pewarna batik.



Matahari siang itu sungguh terik, kepala ini pening karena kami berpanas-panas di tengah kebun - tanpa tutup kepala! Tak banyak tempat dimana kami bisa berteduh dari sengatan si matahari, olehkarenanya secepat kilat kami meminta Pak Gareng mengakhiri sesi keliling kebun ini dan bergegas ke Padepokan Ilir-ilir.

Badan saya tadinya udah lemes tingkat dewa dan memilih mager di bawah pohon durian, tapi sayup-sayup terdengar suara jegog lesung. Sambil mengelap keringat yang terus menetes, saya pun bergegas mendekati padepokan. Dan ternyata, ibu-ibu Kampung Malon sedang asyik memainkan alu dan lesungnya!



Padepokan Ilir-ilir yang menjadi tempat masyarakat Kampung Malon belajar seni dan budaya ini menjadi atraksi terakhir yang saya kunjungi di Kampung Malon.




Tentu saja, yang paling menarik untuk saya dalam perjalanan setengah hari di Kampung Wisata Alam Malon adalah batik Malon-nya. Nah, saya akan ceritakan di lain waktu tentang proses pembuatan pewarna alami dan batik Malon ini ya!

***

Artikel ini sebelumnya dipublikasikan pada laman TelusuRI.

You Might Also Like

0 comments