Merencanakan Dana Liburan dengan Investasi Reksa Dana (2)

Kamis, Januari 31, 2019


Merencanakan Dana Liburan dengan Investasi Reksadana. "Jalan-jalan terus kamu, duitnya kayak nggak ada habis aja!", kata seorang kerabat beberapa tahun lalu, waktu saya masih jomblo, belum berkeluarga, belum ada bocah yang harus diprioritaskan.

Beda dengan saat ini, dulu, jalan-jalan atau liburan bisa dibilang menjadi prioritas utama saya. Kalau sekarang, kegiatan jalan-jalan ini menjadi prioritas kesekian yang nggak wajib dilakukan setiap bulan. Untuk jalan-jalan yang beneran hedon, dua tiga tahun sekali, boleh lah ya!

Nah, karena direncanakan sekitar dua tiga tahun sekali, maka sepanjang waktu itu saya punya waktu untuk mengelola budget liburan. Karena menabung di bank menurut saya bukan merupakan perencanaan yang cocok, untuk itu saya mencoba menginvestasikan budget liburan melalui reksadana.




Dan untuk kedua kalinya, saya ikut acara Kopdar Investarian untuk mendapatkan insight menarik tentang jenis investasi ini. Kalau di kopdar lalu yang topik yang dibahas adalah Reksa Dana Pasar Uang, di kopdar kedua ini Manulife memperkenalkan Reksa Dana Pendapatan Tetap kepada kami. Oh ya, postingan ini sekaligus melanjutkan tulisan saya sebelumnya tentang merencanakan dana liburan dengan investasi reksadana ya!

Tentang Reksadana Pendapatan Tetap
Jadi, Reksa Dana Pendapatan Tetap terdiri dari minimal 80% obligasi dan sisanya pasar uang atau saham. Reksa Dana Pendapatan Tetap ini sedikit berfluktuasi tapi masih terkendali, potensi hasilnya diatas deposito, dan tentunya bisa dibeli atau dicairkan kapan saja. Cukup menarik, kan?

Seperti yang sudah saya tulisa sebelumnya, kalau soal risiko, pasti ada. Tinggal kita mau yang minim resiko, sedang, atau yang beresiko tinggi. Kalau Reksa Dana Pendapatan Tetap ini, kurang cocok di saya karena punya resiko yang lebih tinggi ketimbang Reksa Dana Pasar Uang. Tapi katanya, lebih cocok untuk investasi berjangka 3-4 tahun mendatang seperti biaya masuk sekolah anak. Saya sih sementara ini memantapkan hati untuk tetap berada di Reksa Dana Pasar Uang saja yang beresiko rendah. Maklumin aja ya, pemula. :p

Oh ya, Reksa Dana Manulife punya kalkulator yang bisa kamu gunakan untuk memberikan pertimbangan investasi apa yang sebaiknya akan diambil, dan juga untuk menghitung investasi. Silahkan cek di sini ya!

Perencanaan Keuangan
Di acara Kopdar Investarian lalu, kami juga diberikan contoh tabel rencana investasi. Jadi kita tinggal masuk-masukin angka aja kira-kira kebutuhan dana yang dibutuhkan untuk apa dan berapa jumlahnya, lalu berapa waktu yang dibutuhkan untuk mencapai dana tersebut, dan juga jenis investasi apa yang akan digunakan. Kura-kura akan keluar berapa jumlah yang harus kita investasikan dalam satu bulan.

Contoh perencanaan investasi dari Manulife.
Btw, ini cuman contoh aja ya. Kebutuhan, kapan, berapa, dan jenis investasinya bisa disesuaikan dengan masing-masing individu. Tuh, yang mau liburan dua tahun lagi jadi kelihatan musti nyisihin minimal berapa rupiah per bulannya. Krik, krik. Begitu lihat jumlah angkanya, langsung deh keliyengan. Haha.

Mengenai Dana Darurat
Sekitar tiga bulan lalu, saya baru tahu tentang pentingnya dana darurat. Haha. Merencanakan dan mengelola budget liburan itu boleh banget, tapi jangan sampai kelupaan kalau ada kebutuhan akan dana darurat yang jauh lebih penting. Perencanaannya pun juga bisa menggunakan metode investasi reksadana ini.

Namun, jangan lupa kalau segala kebutuhan dan perencanaan itu disesuaikan dengan finansial masing-masing orang. Tiap orang nggak akan pernah sama jumlah pengeluaran, kebutuhan, juga pendapatannya.

Berapa besarnya darurat? Tergantung. Kalau yang pernah saya baca minimal 6 kali pengeluaran bulanan untuk pasangan suami-istri yang belum punya anak, atau 12 kali pengeluaran bulanan untuk pasangan suami-istri yang baru punya anak satu. Lumayan banget ya. Nah, terkait dana darurat ini, saya pengen bahas di postingan tersendiri ya nantinya karena bakal cukup panjang kalau ikut ditulis di sini.

Saya nggak ada di foto, soalnya lagi sibuk sama makanan di ujung resto. Hihi.
Foto: Dikoko.
Terus ya, gegara kopdar ini, dana yang akan dipakai 12 tahun mendatang pun mendadak merasa perlu dipikirkan. Kebayang nggak sih, biaya masuk kuliah bocah bakal berapa puluh juta dua belas tahun mendatang? *terbang* *lalu lupa sejenak kalau harus nyicil budget untuk liburan*

You Might Also Like

0 comments