Cerita tentang Bhineka Tunggal Ika

Senin, September 18, 2017

Rumah Katu, Poso
Cerita dari Rumah Katu (dok. Adal Bonai)
Sampai sekarang, terkadang saya merasa takut untuk melakukan solo traveling. Jalan sendirian, berkeliling, di tempat orang, dimana saya nggak kenal satu orang pun. Terlebih lagi saya seorang perempuan, nggak sedikit keluarga dan teman-teman selalu bilang hal yang sama: “cewek itu hati-hati kalo bepergian, nanti ada yang godain, nanti ada yang jahatin, nanti ada yang bla bla bla..”. Tapi sampai sekarang pula, saya selalu percaya kalau banyak orang baik di luar sana. Tuhan akan mempertemukan kita dengan “tangan-tangannya”.

Seorang teman berkisah ketika ia melakukan perjalanan ke Poso. Seorang teman jauh yang kecanduan melakukan perjalanan berkeliling Indonesia, dengan caranya. Berawal hanya melewati Poso untuk beberapa hari, menjadi tinggal di sana selama beberapa bulan. Adal Bonai namanya, yang memperkenalkan saya kepada Bang Iin, insiator Rumah Katu Marine Park Poso. Cerita Adal tentang Poso, bisa kamu baca di sini.

Rumah Katu, Poso
Rumah Katu (dok. Adal Bonai)
Poso yang saya tau jauh sebelum saya mengenal Adal dan Bang Iin adalah Poso yang lekat dengan image kerusuhan. Isu SARA lekat di sana, menjadikan Poso terlihat sebagai kota perpecahan -- setidaknya itu yang tau tentang Poso dari berita-berita yang beredar di media. Dulu, saya bahkan skeptis bahwa masyarakat Poso mengenal Pancasila, saya ragu kalau mereka ber-Bhineka Tunggal Ika. Pemikiran saya sangat cetek, bukan?

Saya berkomunikasi dengan Adal dan Bang Iin hanya melalui pesan singkat, terkadang kami bertelefon. Tapi justru dari keterbatasan percakapan ini, saya kini mengenal Poso dengan kesan yang jauh lebih baik. Yang saya ingat, Adal selalu bersemangat ketika menceritakan tentang Poso. Bagaimana ia disambut hangat sebagai saudara di sana, dan bagaimana teman-teman di Rumah Katu membangun silaturahmi dan persaudaraan kuat di sana dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika. Dari Adal dan Bang Iin pula, saya tau kalau berita negatif tentang Poso yang tersebar di media itu hanya secuil dari geliat kehidupan masyarakat Poso.

4 PILAR MPR
Mamak-mamak di #4pilarmpr #inibaruindonesia
Saya kemudian teringat kalau beberapa waktu lalu berkumpul dengan teman-teman netizen Semarang menghadiri acara “Netizen Semarang Ngobrol Bareng MPR RI”. Kami kembali diingatkan bahwa Indonesia punya #4pilarmpr sebagai tiang berbangsa dan bermasyarakat, yaitu Pancasila sebagai dasar negara, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai konstitusi negara, NKRI Sebagai visi dan misi pemersatu bangsa, dan Bhineka Tunggal Ika sebagai simbol keragaman dan persatuan bangsa Indonesia. Saya sendiri cukup tersentil, soalnya kapan terakhir kali melafalkan Pancasila saja nggak inget.

Siti Fauziah SE, MM. Kepala Biro Humas MPR (dok. Mauren Fitri)
Ma’ruf Cahyono, SH, MH. Sekertaris Jenderal MPR (dok. Mauren Fitri)
Di sini, kami juga diajak untuk selalu waspada terhadap isu SARA dan berita hoax yang belakangan gencar banget menyebar. Saya pribadi bukannya nggak percaya dengan media, tapi dewasa ini, kita harus bisa menjadi filter untuk diri sendiri. Beberapa waktu lalu saat pilkada salah satu daerah berlangsung juga banyak sekali konten hoax menyebar dan menggiring berbagai macam isu negatif, mengadu domba, juga memecah belah kesatuan dan kedamaian. Nggak sedikit lho, masyarakat yang tergiring opininya hanya karena api-api kecil yang dibumbung jadi besar.

Dari sini, mau nggak mau saya pribadi dituntut untuk lebih banyak membaca, belajar menjadi filter untuk diri sendiri karena konten yang menyebar di media nggak bisa kita kendalikan bukan?

Bambang Sadono, SH, MH. Ketua Badan Pengkajian MPR (dok. Mauren Fitri)
4 PILAR MPR
Netizen Semarang Ngobrol Bareng MPR RI (dok. Mauren Fitri)
Sekali lagi, bukankah kita bersaudara? Bendera kita sama-sama merah putih, negara kita sama-sama Indonesia, ideologi kita sama-sama Pancasila, konstitusi negara kita sama-sama UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika sebagai pemersatu bangsa.

You Might Also Like

4 comments

  1. Kalau bukan kita yang memulai dan menjaga bangsa ini dari virus-virus negatif siapa lagi coba? :D

    BalasHapus
  2. Setuju apa yang kita tanam akan kita tuai, ketika bepergian dalam kesulitan kita akan ketemu orang baik yang akan menolong, segala amal perbuatan ada pertanggungjawabannya

    BalasHapus
  3. Ya, kita semua saudara, sama2 tinggal di tanah Indonesia, makan juga dari bumi Indonesia. Sudah selayaknya kita mengendalikan fokus kita di dunia maya hanya pada hal2 yg positif saja, karena bagaimanapun konten negatif bakalan terus ada sejalan dengan kepentingan dr golongan2 di baliknya.

    BalasHapus
  4. Sampai sekarang kalau dengar atau baca kata Poso yang terbesit adalah kerusuhan :( sedih ya... Opening-nya bikin terharu dan menarik sekali, membuka pandangan baru ttg Poso ...
    Anw, fotonya kece badai bgt bisa zoom sampai sedetil itu :))

    BalasHapus