Yang Tercecer dari Waisak

Sabtu, Juni 20, 2015

Waisak Borobudur
Borobudur, 25 Mei 2013
"Mau lihat prosesinya?"
"Ndak usah ya, kita dibelakang aja sambil nunggu lampion. Sikonnya begini banget.." Jawab saya singkat setelah kami berjalan - jalan berkeliling pelataran Candi Borobudur yang sudah sangat ramai. Lalu kami mencari spot yang agak jauh dari candi dan kerumunan pengunjung yang sudah standby duduk manis memadati pelataran, disamping - samping mereka tripod - tripod berdiri tegak lengkap dengan kamera berlensa tele dikepalanya. Beberapa kamera sudah terasang flash tambahan, ah pasti kebanyakan dari mereka sedang hunting dalam perayaan Waisak ini, pikir saya.

"Payungnya mbaaak, payungnya mas? Satunya lima puluh ribu saja, daripada kehujanan mbak.." Seorang bapak paruh baya menawarkan dagangannya di depan saya. Wah jadi meremo ya, dibawah tadi harga payung masih separuhnya itu ketika langit masih mendung. Saya berlalu lalu mengeluarkan jas hujan dan payung dari tas.

Gerimis menyapa, tapi berkebalikannya, bukan tambah surut melainkan semakin ramai pelataran Borobudur malam itu. Beberapa pengunjung yang baru saja tiba ikut dusel - mendusel di gerombolan pengunjung lain yang sudah berada di pelataran. Saya sendiri, berada di belakang tenda putih di sisi kiri panggung utama. Duduk ndeprok dibawah pohon sambil mengamati 'ribet'nya pengunjung lain yang berlalu lalang dan sibuk berebut mencari spot. Yang ada di depan pandangan saya hanya lautan manusia, tak jarang hanya pantat orang yang berlalu lalang memenuhi pandangan.

Saya juga ndak terlalu tahu gimana dengan kondisi di sekitar pelataran candi, dimana para banthe berdoa dan mengililingi Borobudur. Banyak yang mengatakan banyak pengunjung tidak beretika entah sengaja atau tidak menggangggu prosesi yang sedang berlangsung. Ada yang berdesak - desakan, tidak memberikan jalan kepada banthe, mendekat dan memanjat panggung utama untuk mendapatkan gambar, ya yaa sebagian orang memotret dengan jarak sangat dekat dan atau menggunakan lampu flash.

Beberapa kali saya mendengar ketika salah seorang panitia berteriak melalui mikrofon, “tolong beri jalan, tolong beri jalan..”. Sepertinya memang suasana di depan sangat nggak kondisif. Sementara saya, masih sibuk sendiri ndabrul bersama Tata seolah tidak mau tau dengan apa yang terjadi di depan. Mengacuhkan mereka yang merokok di sekitar pelataran, padahal sudah jelas hal itu dilarang. Melihat dengan mata sadis mereka yang dengan seenaknya membuang sampah sembarangan. Hingga berkomentar sinis kepada mereka yang datang mengenakan pakaian ‘belum jadi’ sambil nyengir kesal.

Sempat hari senin pagi ada tweet yang bersliweran di timeline saya, menginformasikan bahwasannya tidak sedikit umat budha yang kehabisan name tag peserta waisak. Sedangkan disisi lain, orang - orang yang tidak berkepentingan ibadah seperti peliput berita dan masyarakat yang datang sebagai penonton menggunakannya. Miris? Sangat! :(

Isu ini sudah beredar diseantero penjuru linimasa. Ya, mau bagaimana lagi. Nasi sudah menjadi bubur. Tidak perlu saling menyalahkan. Tidak perlu saling mengumpat walau masing - masing pihak, baik dari umat budha dan pengunjung ada yang merasa kecewa. Antusiasme masyarakat untuk ikut serta dalam perayaan waisak ini memang sangat besar. Saya sendiri mencoba berpikir positif bahwa sebenarnya banyak pengunjung yang ingin mengetahui apa dan bagaimana waisak berlangsung. Hanya saja, kesadaran masing – masing personal untuk saling menghormati dan bertoleransi masih kurang.

Saya pribadi berharap perayaan umat suci budha ini tetap dibuka untuk umum. Hanya saja, diperbaiki kembali soal mekanisme pelaksanaannya. Misalnya dengan pembatasan jumlah pengunjung. Atau dengan memperketat syarat seseorang untuk mendapatkan name tag peserta? Dengan membuat batas lokasi yang jelas antara area khusus perserta dan pengunjung dan penjagaan yang lebih ketat? Atau lagi dengan membagi acara mana saja yang bisa dibuka untuk umum dan mana yang tidak. Sepertinya patut dipertimbangkan. Tapi ya sekali lagi kembali ke masing - masing personal sih yaa, bisa menghargai dan menghormati apa dan tujuan dari waisak itu sendiri atau tidak. Setidaknya sekat - sekat perbedaan antar umat beragama tidak akan mencuat kearah negatif jika ada keterbukaan satu sama lain. Semoga :)

Malam itu hujan mengguyur semakin deras. Sesekali kabut datang menghampiri, menutup stupa yang berwarna sedikit kebiruan terkena sorot lampu. Dibarengi dengan lantunan doa yang dipanjatkan umat budha ketika prosesi mengelilingi Candi Borobudur. Walau ndak tau artinya apa, tapi adem rasanya mendengarkan jauh dibelakang keriuhan dan desak – desakan pengunjung. Saya dan Tata memang tidak mendapatkan apa yang kami ingin lihat malam itu, pelepasan seribu lampion. Tapi dibawah rintik hujan itu, empat jam yang kami habiskan bersama untuk sekedar duduk dan saling mendengarkan sudah lebih dari sempurna, dan Borobudur terlihat begitu cantik malam itu, :')

You Might Also Like

0 comments