Kenangan Seorang Sahabat

Rabu, April 24, 2013

Dinus Open Source Community

Pagi itu tidak ada yang berbeda dari biasanya, aku menjalankan aktivitas ku dirumah seperti saat hari libur sebelumnya. Jalan pagi dan berbelanja untuk dimasak siang harinya. Duduk manis di depan televisi, sambil memegang hape kesayangan. Santai sekali. Sampai sekitar pukul 09.30 salah seorang rekan menelepon, dan memberi tahu kabar mengejutkan itu. Aku tercengang..

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, Anam telah berpulang dalam sebuah kecelakaan yang dialaminya dini hari itu.

Minggu, 10 Juli 2011. Seolah tidak percaya, bahkan hingga sekarang. Kamu pergi begitu cepat, kawan. Seorang sahabat yang tidak kenal pamrih jika dimintai tolong. Seorang adik yang hampir tidak ada salah sedikit pun dimata kakaknya.

Sungguh, kamu seorang yang sangat baik. Kesederhanaamu mengajarkan begitu banyak hal. Kamu adalah sosok yang sangat mandiri. Terlihat dari sikapmu yang tidak lemah. Kamu berani berjuang, melakukan apa pun untuk mengurangi beban orang tua mu dalam menyekolahkan mu, dalam memenuhi semua kebutuhanmu. Kamu bahkan tidak malu untuk berkerja sebagai pelayan di sebuah rumah makan, juga sebagai tukang sapu di sebuah acara pameran di salah satu sudut kota ini.

Kamu adalah sosok yang penyanyang, terlihat jelas bagaimana ketika kamu selalu menceritakan keluargamu. Ayah, ibumu. Juga adik-adikmu. Kamu ikhlas, ketika hasil kerja kerasmu digunakan membelikan sesuatu untuk adikmu. Tidak peduli bagaimana kamu berjuang untuk mendapatkannya, kamu akan lebih memilih membahagiakan orang – orang yang kamu sayangi, keluargamu, dan kami sahabat – sahabatmu.

Kamu, sangat periang. Walau kamu dan keluarga sepertinya sering terkena musibah, dengan tabah kamu menjalaninya. Setiap kali kamu bercerita, sungguh terenyuh hati ini. Dalam keadaan sesulit apa pun, kamu tetap bisa memberikan senyuman terbaikmu kepada kami.

Hampir tidak pernah aku mendengarmu mengeluh, ketika ada yang meminta tolong kepadamu, kamu melayaninya dengan tulus dan tanpa pamrih. Kamu juga bukan tipe orang yang pendendam, sangat arif dan pemaaf.. Keuletanmu sungguh membuatku iri, didepan keterbatasan yang kamu miliki, kamu tidak pernah menyerah. Ketika sebagian teman sibuk dengan laptop dan facebooknya saat pelatihan, kamu sibuk memperhatikan dan mencacat.

Ya, itulah kamu Anam.. Sosok malaikat yang dikirim Tuhan untuk memberi kami pelajaran yang sangat berharga dalam singkatnya waktu yang diberikan kepadamu disini. Terimakasih atas semua pelajaran hidup yang sangat berharga, dan maaf atas segala kesalahan kami yang selalu merepotkanmu.. Aku yakin, Tuhan telah memberikan tempat terbaikNya untukmu dear. Semoga kelak, Tuhan mempertemukan kita di surgaNya ya

Sangat rindu kamu, Nam. Walau kamu sudah ndak di sini sama kami, tapi kamu akan selalu di hati kami Nam. (:

——
PS : Anam meninggal dalam sebuah kecelakaan motor dalam perjalanan pulang ke Jepara. Pukul 01.00 dini hari, seusai bekerja di pameran itu, rasa rindu kepada orang tua dan adiknya membuatnya ingin segera bertemu mereka. Tidak peduli ia lelah, tidak peduli pagi sudah menjelang, ia tetap melanjutkan keinginannya untuk pulang kerumahnya dan menemui keluarganya. Tapi Tuhan mempunyai rencana lain, Anam sudah kembali ke rumah yang sesungguhnya..

You Might Also Like

0 comments